Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Snowball Throwing serta Contoh Penerapannya

 

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

 Belajar matematika sangat berkaitan erat dengan angka-angka, rumus, bentuk bangun datar, bangun ruang,sampai  menguraikan, menerapkan dan mengaplikasikan rumus-rumus tersebut dalam memecahkan masalah matematika. Dalam belajar matematika diperlukan ketelitian, ketekunan dan semangat yang besar. Dalam mengerjakan soal matematika tidak hanya menghafal rumus, mengikuti contoh dan menemukan jawaban. Tapi kita juga harus mengetahui konsep dasarnya, cara mendapatkan rumusnya. Sehingga kita tidak mengingat suatu rumus karena kita menghafalnya, tapi karena kita paham dan mengerti dengan rumus itu.

Dalam proses pembelajaran matematika, seperti yang kita lihat dan rasakan sendiri, bahwa setiap siswa memiliki semangat, daya tangkap dan kemampuan yang berbeda dalam mempelajari matematika. Ada siswa yang sangat menyukainya, tapi ada juga siswa yang tidak menyukainya, ada siswa yang bisa memahaminya dengan cepat, tapi ada juga siswa yang harus dijelaskan lagi oleh temannya, baru bisa mengerti, ada juga siswa yang dapat mengerjakan soal-soal dengan lancar, tapi, ada juga siswa yang sudah bersemangat mengerjakan soal-soal, namun terhenti di tengah jalan karena sudah tidak menemukan pemecahan masalahnya.

Selain itu, banyaknya siswa di dalam kelas dan faktor-faktor eksternal lainnya menyebabkan guru tak dapat mengajarkan materi secara personal dan optimal kepada setiap siswa.

Lalu bagaimana solusinya agar siswa bisa termotivasi dan menyukai pelajaran matematika? Sehingga prestasi belajar mereka dapat meningkat. Untuk itu,diperlukan penerapan metode pembelajara kooperatif di dalam kelas agar siswa dapat lebih termotivasi untuk belajar dan lebih memahami materi yang diajarkan. Karena dalam metode pembelajaran kooperatif, siswa  berinteraksi belajar bersama secara berkelompok dan siswa yang berkemampuan lebih dapat mengajari teman-temannya yang masih belum mengerti.

Dalam prakteknya, metode pembelajaran kooperatif di terapkan dalam bermacam-macam tipe,seperti STAD, NHT, Jigsaw, Snowball Throwing, Multilevel, Make a Match, TGT, TAI, CIRC dan masih banyak lagi. Karena banyaknya keterbatasan, penulis hanya akan membahas beberapa tipe saja, Dari banyak tipe-tipe pembelajaran kooperatif tersebut penulis sangat tertarik untuk membahas tentang tipe STAD dan Snowball Throwing.

Mengapa??

Diawali dari pengalaman penulis menjadi observer dalam penelitian skripsi mahasiswa angkatan 2007 tentang penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan Snowball Throwing secara bersamaan dalam suatu proses pembelajaran matematika.

1.2 Rumusan masalah

Sehubungan dengan latar belakang tersebut, maka masalahnya akan dirumuskan secara terperinci untuk mempermudah dalam merumuskakn tujuan penulisan yang hendak dicapai. Adapun rumusan masalah penulisan adalah sebagai berikut.

  1. Apa itu pembelajaran kooperatif?
  2. Apa itu pembelajaran kooperatif tipe STAD?
  3. Apa itu pembelajaran kooperatif tipe Snow Ball Throwing?
  4. Seperti apa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan Snow Ball Throwing?

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui seperti apa pembelajaran kooperatif
  2. Untuk mengetahui seperti apa pembelajaran kooperatif tipe STAD
  3. Untuk mengetahui seperti apa pembelajaran kooperatif tipe Snow Ball Throwing
  4. Untuk mengetahui seperti apa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan Snow Ball Throwing

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pembelajaran Kooperatif

Menurut Wahyudin dalam buku pembelajaran dan model-model pembelajaran, belajar kooperatif adalah pengalaman yang dapat menanamkan kesadaran dalam diri para siswa bahwa mereka bersatu dalam suatu upaya bersama, bahwa mereka akan berhasil atau gagal sebagai sebuah tim.

Dari sumber lain dijelaskan, dalam belajar kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok – kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 anak untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru. Jonson menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun kelompok. Oleh sebab itu dalam belajar kooperatif siswa belajar lebih banyak dari teman mereka daripada dari guru.  

Kelompok yang dibentuk berdasarkan aturan heterogenitas yang berdasarkan pada :
(1). Kemampuan akademik (pandai, sedang dan rendah)
Yang didapat dari hasil akademik (skor awal) sebelumnya. Perlu diingat pembagian itu harus diseimbangkan sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa dengan siswa dengan tingkat prestasi seimbang.
(2). Jenis kelamin, latar belakang sosial, kesenangan bawaan/sifat (pendiam dan aktif), dll.

FASE KEGIATAN GURU
Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa baik dengan peragaan (demonstrasi) atau teks.
Fase 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Guru menjelaskan siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan perubahan yang efisien.
Fase 4 Membantu kerja kelompok dalam belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.
Fase 5 Mengetes materi Guru mengetes materi pelajaran atau kelompok menyajikan hasi-hasil pekerjaan mereka.
Fase 6 Memberikan penghargaan Guru memberikan cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Jadi, dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan, metode belajar kooperatif adalah suatu bentuk metode belajar yang mengelompokkan 4 atau 5 siswa yang memiliki latar belakang yang berbeda (kemampuan siswa dalam belajar, jenis kelamin, suku dan sebagainya) untuk saling membantu dalam menguasi materi yang diberikan guru (khususnya materi-materi yang sulit) dan menyelesaikan tugas-tugas. Di dalam kelompok itu mereka saling berinteraksi, melengkapi dan mengajarkan bila ada anggota kelompok yang masih belum mengerti. Siswa belajar untuk memahami konsep bukan menghafal rumus semata. Sehingga prestasi belajar setiap siswa dalam kelompok tersebut meningkat. Selain itu, Guru tetap memantau dan mengarahkan siswa agar tujuan pembelajaran tercapai dengan baik. Kemudian diakhir pembelajaran siswa diberikan kuis dan evaluasi,  dan guru memberikan penghargaan atas prestasi yang telah dicapai kelompok secara umum dan siswa secara khusus.

2.2 Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)

STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya, merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru membagi siswa-siswa di kelas menjadi beberapa kelompok heterogen, setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang.

Langkah-langkah :

  1. Persiapan materi dan penerapan siswa dalam kelompok.
  2. Guru memberikan penjelasan dan motivasi untuk bekerja sama dalam tim, lalu dilanjutkan dengan apersepsi dan penjelasan singkat tentang materi yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Siswa belajar untuk memahami konsep atau makna bukan menghafal.
  3. Siswa berkelompok untuk lebih memahami materi dan menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru di dalam LKS. Guru juga dapat memberi bantuan bila siswa mngalami kasulitan atau ada hal-hal yang perlu ditanyakan.
  4. Siswa mengerjakan kuis individu selama 45-60 menit untuk mengukur seberapa jauh pemahaman mereka meningkat setelah belajar kooperatif ini.
    1. Dari hasil nilai perkembangan, maka penghargaan pada prestasi kelompok diberikan dalam tingkatan penghargaan seperti kelompok baik, hebat dan super. Setelah satu periode penilaian, dilakukan perhitungan ulang skor evaluasi sebagai skor awal untuk pengelompokkan siswa yang baru, lalu dilakukan juga revisi anggota kelompok agar siswa dapat bekerja dengan teman yang lain.

2.3 Pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing

          Langkah-langkah :

  1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
  2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
    1. Ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, lalu menjaelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya,
    2. Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu perrtanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan ketua kelompok.
      1. Kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama sekitar 15 menit.
      2. Setelah mendapat satu bola diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
      3. Evaluasi
      4. Penutup.

 

 

2.4 Penerapan Pembelajaran Koperatif Tipe STAD dan Snowball Throwing

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan tentang langkah-langkah metode Kooperatif tipe STAD dan Snowball Throwing. Dari langkah-langkah tersebut dapat kita lihat secara umum kedua tipe memiliki gambaran umum konsep yang dapat saling melengkapi, sehingga apabila digabungkan diharapkan akan memperoleh hasil yang optimal.

Pada bagian ini penulis akan bercerita bagaimana pengalamannya sebagai observer (pengamat) dalam penelitian skripsi seorang mahasiswa angkatan 2007 tentang penerapan pembelajaran koopeeratif tipe STAD dan Snowball Throwing secara bersamaan dalam pengajaran pokok bahasan Trigonometri di kelas XI IPA salah satu MAN di Banjarmasin.

Sebelumnya di kelas ini tidak pernah diterapkan sistem belajar berkelompok, siswa hanya mendengarkan penjelasan guru secara ekspositori dan mengerjakan latihan-latihan sendiri. Kemudian akan diterapkan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Tipe yang digunakan adalah tipe STAD dan Snowball Throwing.

Proses pembelajaran ini terdiri dari 2 siklus, siklus pertama membahas tentang rumus trigonometri untuk jumlah dan selisih dua sudut terdiri dari 2 pertemuan, dan siklus kedua tentang rumus trigonometri untuk sudut rangkap yang terdiri dari 1 pertemuan.

Pertama-tama guru membuka suasana belajar dengan mengucapkan salam dan menjelaskan kepada siswa hari ini kita akan belajar trigonometri dengan menggunakan metode Kooperatif tipe STAD dan Snowball Throwing, kemudian melakukan apersepsi atau mengulang pelajaran yang telah lalu yang masih  berkaitan dengan materi yang akan dibahas. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan arahan, beberapa siswa merespon dan menjawab pertanyaan guru. Setelah dirasa cukup, lalu guru melanjutkan penjelasan tentang materi yang akan didiskusikan hari ini. Untuk mempermudah dan tidak menyita banyak waktu materi dipersiapkan terlebih dahulu dengan menuliskannya di atas karton, kemudian ditempel di papan tulis, siswa juga diberikan kopian materi ajar. Sehingga siswa bisa fokus mendengarkan penjelasan guru. Setelah penjelasan dirasa cukup dimengerti oleh siswa, guru meminta siswa untuk duduk dalam kelompoknya masing-masing. Kira-kira waktu yang dihabiskan selama 30 menit.

Sebelumnya, dilakukan pembentukan kelompok yang heterogen. Dengan melihat nilai hasil evaluasi siswa materi sebelumnya, siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah diatur sedimikan rupa dalam pembagian kelompok agar tidak terjadi kesenjangan. Selain itu, setiap kelompok juga terdiri dari perempuan dan laki-laki, suku-suku  dan latar belakang yang berbeda, sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan bekerja sama dalam kelompok mereka. Siswa-siswa di kelas ini di bagi dalam 7 kelompok yang terdiri dari 4-5 orang.

Setiap kelompok diberikan LKS (Lembar Kerja Siswa). LKS terdiri dari ringkasan materi tentang rumus-rumus yang dibahas, contoh dan soal-soal yang sudah diberi penduan cara penyelesaian berupa titik-titik, sehingga siswa dapat mengikuti caranya dengan mengisi titik-titik tersebut.

Sebelum bekerja dalam kelompok, ketua kelompok berkumpul dan diberi pengarahan dari guru, serta mengambil LKS, lalu, mereka kembali ke kelompoknya masing-masing. Di dalam kelompok, siswa mempelajari petunjuk yang ada di LKS dan bekerja sama untuk mengerjakan soal-soal. Ketua kelompok juga menyampaikan kembali penjelasan dari guru kepada anggotanya.  Pada awalnya, dari ketujuh kelompok tersebut, tidak  semua anggota tiap kelompok aktif, ada beberapa kelompok yang anggotanya masih ada yang pasif dan mengamati temannya bekerja saja, tapi ada juga siswa yang sangat bersemangat, sehingga tampak menonjol dalam kelompok itu. Guru memotivasi siswa untuk bekerja sama dan aktif dalam kelompok, serta observer terus melakukan pemantauan. Akhirnya seiring berjalannya waktu, siswa mulai terbiasa belajar dan saling bekerja sama dalam kelompok. Siswa pun tidak segan-segan bertanya kepada guru apabila mereka menemukan kebingungan dalam bnerdiskusi dan keaktifan siswa semakin meningkat apalagi pada saat siklus kedua.

Setelah siswa menyelesaikan LKS dan mengumpulkannya, siswa tetap dalam kelompoknya, kali ini dengan lembar kertas baru, para siswa dalam tiap kelompok bersama-sama untuk membuat 1 buah soal sesuai dengan materi yang di bahas, soal ditulis di selembar kertas tersebut, setelah selesai, kertas di remas-remas membentuk bola. Setelah semua siap, masing-masing kelompok melemparkan bola kertas tersebut ke kelompok lain. Pada saat pelemparan bola kertas, kelas menjadi agak ribut dan heboh, sampai-sampai ada kelompok yang mendapatkan 2 buah lemparan bola, bola kertas pun dilemparkan lagi ke kelompok yang belum mendapatkannya. Guru pun berupaya untuk menenangkan suasana kelas, siswa sepertinya mulai menikmati pembelajaran seperti ini. Dan dengan bersemangat berdiskusi untuk mengerjakan soal yang tertulis di bola kertas tersebut dan menuliskan jawabannya di bawahnya. Kemudian sekitar 10 menit, masing-masing perwakilan kelompok mempresentasikan jawaban dengan cara menuliskannya di papan tulis, guru mengoreksi dan memberikan penjelasan kembali bila ada jawaban kelompok yang salah.

Setelah bekerja sama dalam kelompok, siswa kembali ketempat duduknya masing-masing dan bersiap-siap untuk mengerjakan kuis. Kuis dilaksanakan selama ±15 menit dan siswa diharapkan untuk mngerjakan sendiri tanpan bantuan apapun dan siapapun. Agar dapat diketahui sejauh mana keberhasilan pembelajaran dengan kedua tipe tersebut terhadap kemampuan siswa memahami materi trigonometri ini. Nilai hasil kuis setiap anggota, akan dijumlahkan dan dijadikan nilai kelompok.

Terakhir penutup, selama 5 menit, guru membimbing siswa menyimpulkan materi dan mengingatkan siswa untuk mempelajari kembali di rumah hal-hal yang sepertinya masih kurang begitu dikuasai ketika berkelompok. Kunci jawaban LKS juga dibagikan agar siswa dapat mempelajari kembali untuk persiapan evaluasi pokok bahasan atau materi trigonometri ini.

Setelah 2 pertemuan dalam siklus pertama, diadakan evaluasi belajar, soal-soal yang di ujikan adalah soal-soal bentuk essay yang sejenis dengan yang sudah dibahas pada pertemuan sebelumnya. Setelah evalusi, diadakan pembagian hadiah untuk kelompok yang memenuhi kriteria baik, hebat dan super. Pada siklus pertama hanya ada 2 kelompok yang memenuhi kriteria baik dan hebat. Pada siklus kedua terjadi peningkatan, 1 kelompok memenuhi kriteria baik, 1 kelompok memenuhi kriteria hebat dan 5 kelompok memenuhi kriteria super. Sehingga, semua kelompok mendapatkan hadiah. Nilai evalusi mengalami peningkatan dari evalusi sebelumnya, ini menunjukkan bahwa metode kooperatif dengan menggabungkan tipe STAD dan Snowball Throwing di kelas ini telah berhasil.

BAB III

PENUTUP

 Kesimpulan

  1. Dalam proses pembelajaran matematika, seperti yang kita lihat dan rasakan sendiri, bahwa setiap siswa memiliki semangat, daya tangkap dan kemampuan yang berbeda dalam mempelajari matematika.
  2. Diperlukan penerapan metode pembelajara kooperatif di dalam kelas agar siswa dapat lebih termotivasi untuk belajar dan lebih memahami materi yang diajarkan. Karena dalam metode pembelajaran kooperatif, siswa  berinteraksi belajar bersama secara berkelompok dan siswa yang berkemampuan lebih dapat mengajari teman-temannya yang masih belum mengerti.
  3. Dalam prakteknya, metode pembelajaran kooperatif di terapkan dalam bermacam-macam tipe,seperti STAD, NHT, Jigsaw, Snowball Throwing, Multilevel, Make a Match, TGT, TAI, CIRC dan masih banyak lagi. Dari banyak tipe-tipe pembelajaran kooperatif tersebut penulis sangat tertarik untuk membahas tentang tipe STAD dan Snowball Throwing.
  4. Metode Kooperatif tipe STAD dan Snowball Throwing memiliki gambaran umum konsep yang dapat saling melengkapi, sehingga apabila digabungkan diharapkan akan memperoleh hasil yang optimal.
  5. Berdasarkan pengalaman penulis menjadi observer dalam penelitian penerapan pembelajaran koopeeratif tipe STAD dan Snowball Throwing secara bersamaan, ternyata dapat meningkatkan hasil prestasi belajar siswa.

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim, Muslim, Dr. M. Pd, dkk. 2001. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi PAIKEM. Cetakan ketiga. Yogyakarta:Pustaka Belajar.

Wahyudin.2008. Pembelajarn dan Model-model Pembelajaran..Jakarta: Kencana.

Blog trisni andy. Model STAD. diakses tanggal 25 Desember 2010.

File pdf model–model kooperatif

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s