Salam Keteguhan

Ding, kenapa belum tulak?” tanyaku pada adikku yang masih berdiri di teras rumah. Padahal dia sudah lama rapi dengan seragam SD nya.

“Tika kada wani, keluar pagar, Tika handak diantarkan Ka Tina aja ke sekolah nya.” kata adikku itu sambil pandangannya mengarah ke sosok perempuan seusia ibu kami, yang berdiri di depan pagar rumah, tangan dan badannya bergoyang-goyang, mulutnya komat-kamit berkata-kata, entah apa yang dikatakannya.

Aku teringat, dulu ketika Aluh mengamuk dan melemparkan kayu ke arah Tika, syukurlah meleset, dan Tika sampai sekarang masih trauma bila berpapasan dengan Aluh sendirian.

Ayuja, hadangi kaka” aku segera bersiap-siap dan mengantarkan adikku ke sekolah.

Setelah mengantarkan Tika, Aluh masih di depan pagar, aku memandang ke arahnya dan tersenyum ingin menyapanya, tapi ia tetap sibuk dengan dunianya sendiri. Aku masuk ke halaman dan ingin menyapu. Ketika masih menyapu, dari kejauhan aku lihat Nini Aminah berjalan tergesa-tergesa, ia menghampiri Aluh, entah apa yang dikatakannya kepada anaknya itu, akhirnya Aluh pun beranjak dari depan rumahku. “Assalamu’alaikum, Nak.” Nini Aminah menyapa, aku menjawab “ Wa’alaikumsalam, Ni.” Nini Aminah tersenyum kemudian menyusul anaknya yang telah berlalu.

——-

Hari ini terasa panas sekali. Aku mendorong sepeda motor sambil berkeringat, Bannya bocor, sehingga harus ditambal. Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya aku menemukan tukang tambal ban. Tiba-tiba, “Mama, ada orang gila” teriak seorang anak sambil berlari mendatangi mamanya yang berada di seberang jalan. Mataku mencari sosok yang berada dibelakang anak itu. Tampak sesosok laki-laki, cengar cengir dengan hanya mengguNakan sarung seadanya. “Anan pergi, jangan menggganggu anak orang.” Bentak mama anak itu. Sebenarnya Anan tidak mengganggu anak itu, tapi karena ia hanya memakai sarung dan hanya menyelendangkannya kebadan, sehingga membuat hampir semua bagian tubuhnya terlihat. Hal ini, telah membuat anak itu takut.

Aku masih menunggu ban sepeda motorku ditambal, dari jauh terlihat sosok nenek tua, ringkih, tapi keadaan memaksanya untuk tetap kuat berjalan. Entah berapa jauh ia telah berjalan hari ini. Sosok itu makin mendekat dan ketika telah sampai di depan tempat tambal ban ini, ia tersenyum ke arah orang-orang yang ada di sini, lalu mengucapkan, “Assa….” “Ni, anak pian itu jangan dibiarkan berkeliaran kada bebaju, Anan sudah membuat anak-anak ketakutan.” teriak seorang ibu dari seberang jalan. “Inggih, maaf, tadi nini lagi kepasar mencari duit, padahal sewaktu tulak tadi sudah dipadahi jangan kemana-mana.” jawab Nini Aminah lirih. “Nyataai orang gila kada kawa dipadahi.” bisik tukang tambal ban. “Assalamu’alaikum.” Nini Aminah melanjutkan salamnya yang terputus. “Wa’alaikumsalam.” jawab kami yang ada di tempat tambal ban itu. Nini Aminah pun berlalu, matanya mencari-cari sosok anaknya itu. Ia akan membawanya pulang. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Perasaan ku campur aduk, membayangkan Nini Aminah yang tua renta itu berjalan ke pasar meminta-minta. Kemudian mengurus anak-anaknya yang jiwanya terganggu itu seorang diri.

Setelah selesai, aku bergegas pulang. Hari yang panas tadi sudah berubah menjadi kelabu dan sepertinya telah bersiap-siap akan memuntahkan titik-titik air. Agar bisa sampai rumah secepatnya, aku akan melewati gang kecil yang ujung keluarnya dekat dengan rumah. Rintik sudah menyapa, aku melihat sesosok laki-laki sedang berbaring melintang, menghalangi jalan gang. Aku bingung, apa yang harus kulakukan agar bisa melewati gang ini? apakah aku harus menegur dan menyuruhnya pergi? aku takut ia akan mengamuk. Aku masih mematung di atas sepeda motorku. “Mat, jangan berabah di situ, orang kada kawa lewat, harinya handak hujan jua.” Kata Nini Aminah sambil membimbing anaknya bangun. Syukurlah Nini Aminah segera datang. Nini Aminah memandangku, “ Maaf Nak, Assalamu’alaikum” ucapnya seraya berlalu. “ Wa’alaikumsalam.” Hatiku miris, tak terasa air mataku mengalir bercampur air hujan yamg semakin deras. Nini Aminah yang sudah tua itu, harus mengurus tiga orang anak yang jiwanya terganggu dan sebenanya sudah dewasa itu, seorang diri, tanpa ada yan peduli. Aku sedih, tak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya mengenai anak-anak Nini Aminah ini sudah disampaikan ke ketua RT agar mereka bisa ditangani lebih lanjut atau dapat dirawat di Rumah Sakit Jiwa Entahlah, apakah ketua RT kami sudah mengusahakannya atau belum.

—–

Sore ini, aku duduk di kios di depan rumah, sambil menjaga kios, aku mengerjakan tugas-tugas kuliah.

“Assalamu’alaikum.” Nini Aminah berdiri di depan kios,

“Wa’alaikumsalam, ada apa Ni?”  kataku,

“ Nini handak nukar baras 3 liter, yang paling murah haja.”

“inggih, tunggui Ni lah”

aku ambilkan beras yang paling bagus yang ada di kios kami.

“Berapa, Nak?”

“Kada usah Ni ae.”

“Ya kah Nak, makasih banyak”

“Sama-sama”

“Assa…”

“APA IKAM! AWASLAH! BAJAUH-BAJAUH…”

Aluh menendang batu-batu di peinggir jalan dan berteriak-teriak, entah apa sebenarnya yang ada di dalam pikirannya,

Nini Aminah terkejut dan segera menghampiri anaknya

Aluh sudah bersiap-siap menggenggam kayu, entah siapa yang akan dipukulnya, Nini Aminah segera merebut kayu itu. Syukurlah Nini Aminah selalu punya cara untuk menenangkan anak-anaknya. Akhirnya mereka pulang bergandengan. Ketika melewati kios kami, “Assalamualikum,Nak”

“Wa’alaikumsalam, Ni.” Aku lega hal yang buruk tak sempat terjadi,. Tapi, sampai kapan Nini Aminah bisa menenangkan anaknya, sampai kapan ketiga anaknya itu dibiarkan berkeliaran, tanpa penanganan dari Rumah Sakit Jiwa. Sesak di dada, apa yang bisa kulakukan.

———

Hari-hari terus berlalu, Aluh masih sering ku lihat berdiri bergoyang-goyang dengan mulut komat-kamit di depan pagar rumahku. Tapi, Anan sudah beberapa hari tak terlihat berkeliaran.

Aku sedang menyapu halaman, seperti biasa.

“Assalamu’alaikum, Nak.”

“Wa’alaikumsalam, Ni.”

Ku lihat wajah, Nini Aminah tampak murung, tak ada senyum dan salamnya lirih tak seperti biasanya.

“ Ada apa ni?”

“Anan sudah 2 hari kada bulik, nini sudah mencarii kada dapat jua”

“iya kah?, kena ulun bantui mencari, sebaiknya pian lapor jua dengan pak RT”

“iya Nak, terimakasih, Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

Aku menceritakan masalah Nini Aminah ini kepada ayah, kami pun berusaha mencari. Pak RT dan beberapa warga juga ikut membantu pencarian Anan, Senja sudah mulai merona, Anan masih belum juga ditemukan, akhirnya pencarian dihentikan,

Setelah maghrib, terdengar keributan di luar. Ternyata ada warga yang telah menemukan Anan tergeletak tak bernyawa di semak-semak dekat komplek pemakaman.

Hatiku pilu, apakah nanti Aluh dan Amat akan meninggal dengan cara seperti itu juga. Tak  sanggup aku membayangkannya.

———

Meninggalnya Anan, seolah menjadi teguran bagi kami sebagai tetangga yang lamban dalam membantu tetangganya yang sedang terganggu jiwanya..

Pak RT menyesal, ia dan beberapa warga termasuk ayahku, mengusahakan agar Aluh dan Amat mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Jiwa sesegeranya.

Akhirnya, Amat dan Aluh di bawa ke Rumah Sakit Jiwa. Nini Aminah sekarang sendirian, tapi ia lega, karena anaknya telah dirawat oleh ahlinya.

——-

Aku telah bersiap-siap di depan rumah dan mau berangkat kuliah. Nini Aminah melewati depan rumah, dan seperti biasa “Assalamuaikum, Nak.” “Wa’alaikumsalam Ni.” jawabku. Mendengar dan menjawab salam Nini Aminah seolah membuatku semakin bersemangat menjalani hari ini. Salam dari Nini Aminah tidak seperti salam yang di ucapkan oleh orang-orang kebanyakan, Salam Nini Aminah adalah salam yang tulus dan mencerminkan ketegaran, salam keteguhan.

( terinspirasi dari keteguhan nini jamilah yang merawat 3 orang anaknya yg sedang terganngu jiwanya seorang diri, semoga Allah membalas keteguhanmu, dengan pahala dan kebaikan yang berlipat ganda..)

Advertisements

3 comments on “Salam Keteguhan

    • Adaae sidin,,, kadang2 singgah ke rumah bepadah sakit pinggang, dibarii obat oleh ma2 ku.
      masih tetap tegar dengan salamnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s