Kemampuan Komunikasi Siswa dalam Matematika

 

  1. A.    Pendahuluan

Standar utama dalam pembelajaran matematika yang termuat dalam Standar National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) (2000)  yaitu kemampuan pemecahan masalah (problem solving), kemampuan komunikasi (communication), kemampuan koneksi (connection), kemampuan penalaran (reasoning), dan kemampuan representasi (representation). Kelima standar tersebut mempunyai peranan penting dalam kurikulum matematika. Selain itu, Standar Isi Permendiknas no.22 tahun 2006 menyatakan bahwa mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. 1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah. 2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. 3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. 4) Mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. 5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah

Komunikasi matematika merupakan proses esensial pembelajaran matematika  karena melalui komunikasi, siswa  merenungkan, memperjelas dan memperluas ide dan pemahaman mereka tentang hubungan dan argumen matematika. (Ontario Ministry of Education, 2005)

Komunikasi menjadi bagian yang esensial dari matematika dan pendidikan matematika. Komunikasi adalah cara untuk berbagi (sharing) gagasan dan mengklarifikasi pemahaman. Melalui komunikasi, gagasan-gagasan menjadi objek-objek refleksi, penghalusan, diskusi, dan perombakan. Proses komunikasi juga membantu membangun makna dan kelanggengan untuk gagasan-gagasan, serta juga menjadikan gagasan-gagasan itu diketahui publik (NCTM, 2000).

Kategori Komunikasi Matematika menurut Ontario Ministry of Education (2005) adalah ekspresi dan organisasi ide-ide dan berpikir (matematika misalnya, kejelasan,  ekspresi, organisasi, logis), dengan menggunakan  lisan, visual, dan ditulis bentuk (misalnya, Picto-Material, grafis, dinamis, numerik, aljabar bentuk, material konstruktif); komunikasi untuk audiens yang berbeda (Misalnya, teman sebaya, guru) dan tujuan (Misalnya, untuk menyajikan data, membenarkan solusi, mengungkapkan argumen matematika secara lisan, visual, dan tertulis bentuk);  penggunaan konvensi, kosa kata dan terminologi disiplin (misalnya, istilah, simbol) dalam bentuk lisan, visual, dan ditulis. Selain itu, standar kemampuan komunikasi matematik menurut NCTM harus memungkinkan semua siswa untuk :  mengatur dan menggabungkan pemikiran matematis mereka melalui komunikasi;  mengkomunikasikan pemikiran matematika mereka secara koheren dan jelas kepada teman, guru dan orang lain; menganalisa dan menilai pemikiran dan strategi matematis orang lain; sera menggunakan bahasa matematika untuk menyatakan ide matematika dengan tepat.

Ontario Ministry of Education (2006) menyatakan bahwa rahasia untuk mengajar sukses adalah mampu menentukan apa yang siswa pikirkan dan kemudian menggunakan informasi tersebut sebagai dasar untuk instruksi pembelajaran. Guru mempelajari apa yang siswa berpikir melalui komunikasi. Ketika siswa berkomunikasi secara matematis, baik secara lisan maupun tertulis, mereka membuat pemikiran mereka dan pemahaman yang jelas  kepada orang lain serta diri mereka sendiri. Dalam pemikiran kelas awal, siswa tentang matematika seringkali sulit untuk mengeksplorasi, terutama karena  kemampuan siswa dalam berbicara dan menulis hanya mulai mengembangkan dan karena pengalaman mereka berkomunikasi tentang matematika baru. Sepanjang nilai utama dan masuk ke tahun lebih muda, namun, siswa mendapatkan pengalaman lebih dan diberikan banyak kesempatan untuk memperoleh peningkatan sejumlah strategi untuk menunjukkan apa yang mereka pahami dan matematis menunjukkan proses yang mereka gunakan untuk mencari solusi. Setelah siswa dapat berkomunikasi secara matematis, guru dapat: mengukur sikap siswa terhadap matematika;  memahami proses belajar siswa, termasuk kesalahpahaman yang siswa memiliki; membantu siswa memahami apa yang mereka pelajari; mengakui dan menghargai perspektif lain. Ketika komunikasi ditekankan dalam program matematika, siswa juga memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan dan memperkuat keterampilan berbahasa mereka. Dalam rangka untuk menyelidiki konsep-konsep matematika dan memecahkan masalah matematika, siswa perlu membaca dan menginterpretasikan informasi,  mengekspresikan pikiran mereka secara lisan dan tertulis, mendengarkan orang lain, dan berpikir kritis tentang ide-ide.

 

Berdasarkan penjelasan diatas, kemampuan komunikasi sebagai standar dan tujuan pembelajaran matematika menjadi bagian yang sangat penting dalam kegiatan proses belajar dan pembelajaran di kelas. Guru hendaknya melaksanakan pembelajaran yang meningkatkan kemampuan siswa dalam komunikasi, tidak hanya berpusat pada kemampuan siswa dalam menghafal. Hasil penelitian Wichelt (2009)  yang berfokus pada kosa kata dan kemampuan matematika siswa, menyatakan bahwa prestasi dan pemahaman siswa meningkat stelah guru berusaha menerapkan pembalajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa daam berkomunikasi, baik secara lisan maupun komunikasi matematis tertulis. Guru berusaha meberikan kesempatan kepada siswa untuk berkomnuikasi baik kepada guru maupun kepada sesama siswa dalam kelompok belajar.

Hasil penelitian Trends in Mathematics and Science Study (TIMSS, 2012) yang diikuti siswa kelas VIII Indonesia tahun 2011. Penilaian yang dilakukan International Association for the Evaluation of Educational Achievement Study Center Boston College tersebut, diikuti 600.000 siswa dari 63 negara. Untuk bidang Matematika, Indonesia berada di urutan ke-38 dengan skor 386 dari 42 negara yang siswanya dites. Skor Indonesia ini turun 11 poin dari penilaian tahun 2007. Pencapaian prestasi belajar siswa Indonesia di bidang sains dan matematika, menurun. Siswa Indonesia masih dominan dalam level rendah, atau lebih pada kemampuan menghafal dalam pembelajaran sains dan matematika. Menanggapi hasil penelitian ini, Wono Setyabudhi, dosen matematika dari Institut Teknologi Bandung dalam Napitupulu (2012) menyatakan bahwa pembelajaran matematika di Indonesia memang masih menekankan menghapal rumus-rumus dan menghitung. Bahkan, guru pun otoriter dengan keyakinannya pada rumus-rumus atau pengetahuan matematika yang sudah ada., Padahal, belajar matematika itu harus mengembangkan logika, reasoning, dan berargumentasi, serta bisa meyakinkan orang lain. Namun hal ini masih kurang dikembangkan dalam pendidikan Matematika di sekolah.

Pada umumnya, pembelajaran matematika dilakukan guru kepada siswa adalah dengan tujuan siswa dapat mengerti dan menjawab soal yang diberikan oleh guru, tetapi siswa tidak pernah atau jarang sekali dimintai penjelasan asal mula mereka mendapatkan jawaban tersebut. Sehingga siswa jarang sekali berkomunikasi dalam matematika. Apabila siswa terlibat aktif dalam proses belajar, mereka akan lebih mampu membangun gagasan, ide, dan konsep matematika. Sehingga siswa akan memiliki konsep atas topik matematika tersebut. Selain itu, mereka juga dapat mengembangkan skill-skillnya (zainab 2010). Kurangnya kemampuan komunikasi siswa dalam belajar matematika juga dapat dilihat dalam pembelajaran di kelas, misalnya siswa dapat mengerjakan soal matematika yang diberikan, namun ketika ditanya bagaimana langkah-langkah untuk mendapatkan hasilnya, siswa menjadi bingung dan kesulitan dalam menjelaskan.  Selain itu, masih seringnya ditemukan kesalahan siswa dalam menyatakan notasi matematika, symbol dan istilah.

  1. Identifikasi Masalah
  2. Kemampuan komunikasi merupakan salah satu kemampuan yang menjadi tujuan dan standar  dalam pembelajaran matematika, namun masih belum ada upaya dari guru untuk mengembangkan kemampuan tersebut dalam pembelajaran di kelas.
  3. Kemampuan matematika siswa masih dominan dalam level rendah, atau lebih pada kemampuan menghafal dalam pembelajaran sains dan matematika.
  4. Kemapuan siswa dalam mengkomunikasi matematika dalam lisan atau tulisan masih rendah.

 

c. Solusi Pembelajaran yang Dapat Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Siswa

Ketika pembelajaran di kelas, biasanya guru mendominasi diskusi, sehingga siswa cenderung bergantung pada guru untuk memperoleh konsep pembelajaran, dari pada belajar dan mencari solusi sendiri, serta mengkomunikasikannya bersama-sama siswa lain. Solusi pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan komunikasi yang dikemukakan dalam jurnal Ontario Ministry of Education(2010) Communication in the Mathematics Classroom ada tiga  yaitu pembelajaran Gallery walk, Kongres Matematika dan Bansho. Pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa dan memfasilitasi waktu untuk berbicara dan mendengarkan secara aktif satu sama, mendisklusikan pemikiran tentang konsep matematika kepada orang lain dan merefleksikan apa yang mereka pelajari. Bahkan, forum diskusi ini terorganisir dan mendorong siswa untuk berbagi ide yang menantang. Yang penting, siswa diyakinkan bahwa mereka suara, ide-ide dan  pengalaman dihargai dan memberikan kontribusi langsung kepada seluruh kelas belajar.  Selama proses pembelajaran menggunakan gallery walk, Matematika Kongres dan Bansho, menjadi jelas bagi para siswa dan guru bahwa komunikasi matematika bukan tentang “menjawab pertanyaan dengan menggunakan  kata, angka, gambar, dan simbol. Sebaliknya, mereka menyadari bahwa bentuk-bentuk komunikasi dipilih dan diterapkan dalam rangka menciptakan argumen matematika yang tepat, di mana diagram berlabel dan / atau ekspresi numerik dan persamaan dipandang sebagai lebih tepat, ringkas dan persuasif daripada bentuk narasi deskriptif. Diskusi ini proses memprovokasi siswa untuk menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi, seperti analisis, evaluasi dan sintesis, dalam rangka meningkatkan pemahaman konseptual mereka, penggunaan matematika strategi dan komunikasi matematika.

1)      Gallery walk

Fosnot & Dolk dalam Ontario Ministry of Education(2010)Gallery walk adalah teknik diskusi interaktif yang mendapat siswa keluar dari kursi mereka  dan menjadi mode fokus dan keterlibatan aktif dengan siswa lainnya dalam ide ‘matematika. Tujuan dari  Gallery walk adalah agar siswa dan guru memiliki komunikasi matematis dan terlibat dengan berbagai solusi melalui analisis dan respon. Hal ini sering dilakukan setelah siswa telah menghasilkan solusi untuk masalah dalam pembelajaran matematika. Solusi dapat direkam pada komputer, potongan kertas di atas meja atau diposting pada

bagan kertas.

2)     Math Kongres
Math Kongres adalah strategi pembelajaran matematika yang dikembangkan oleh Fosnot dan Dolk dalam Ontario Ministry of Education(2010). Tujuan kongres adalah untuk mendukung pengembangan matematika di pembelajaran dalam masyarakat kelas, memperbaiki kesalahan dalam pekerjaan anak-anak atau mendapatkan kesepakatan tentang jawaban. Sebuah kongres memungkinkan guru untuk memfokuskan siswa pada penalaran tentang beberapa ide matematika besar yang berasal dari pemikiran matematika yang ada pada solusi siswa ketika mengerjakan permasalahan matematika. Oleh karena itu, Kongres Matematika bukan tentang menunjukkan setiap solusi, karena waktu tidak cukup,2 atau 3  solusi strategis siswa dipilih, dalam rangka untuk mengembangkan pembelajaran matematika setiap siswa. Untuk mengeksplorasi strategi ini, mencoba memecahkan masalah sendiri dalam dua cara yang berbeda.

3)      Bansho (Dewan Menulis)

Bansho, dalam bahasa Jepang, secara harfiah berarti menulis papan. Menurut Fernandez dan Yoshida dalam Ontario Ministry of Education(2010) tujuan Bansho adalah untuk mengatur dan merekam asal dari pikiran matematika dandiproduk si secara kolektifoleh siswa di papan tulis ukuran besar. Menulis di papan tersebut meliputi penggunaan ekspresi matematis, angka dan diagram solusi siswa dan strategi untuk masalah pelajaran. Karena ini catatan tertulis memungkinkan perbandingan secara simultan multiple-solusi metode, ada potensi siswa untuk membangun ide-ide matematika baru dan memperdalam matematika mereka pengertian. Karena papan tulis adalah catatan tertulis dari pelajaran keseluruhan, para siswa dan guru memiliki pandangan seluruh diskusi matematika di kelas pada seluruh pelajaran. Selain itu, dengan pemodelan organisasi yang efektif, Bansho mendorong keterampilan mencatat matematika siswa. Guru menjaga semua pelajaran yang ditulis pada papan tulis tanpa menghapus.

Ketiga solusi pembelajaran yang ditawarkan tersebut dapat digabungkan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Misalnya diterapkan bergantian secara periodik dalam 1 periode pembelajaran. Hal ini dikarenakan masing-masing pembelajaran memiliki aspek pengembangan komunikasi yang berbeda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

National Council of Teachers of Mathematics. (2000). Prinsiples and Standards for School

Mathematics. Reston: NCTM.

Napitupulu, Ester Lince. 2012. Prestasi Sains dan Matematika Indonesia Menurun.

http://edukasi.kompas.com/read/2012/12/14/09005434/Prestasi.Sains.dan.Matematika.Indonesia.Menurun

Ontario Ministry of Education. (2005). The Ontario Curriculum, Grades 1 to 8: Mathematics. Toronto, ON: Queen’s Printer for Ontario.

Ontario Ministry of Education. (2006). A guide to effective instruction in mathematics, Kindergarten to grade 6: Volume 2 – Problem solving and communication. Toronto, ON: Queen’s Printer for Ontario

Ontario Ministry of Education. (2010). Communication in the Mathematics Classroom

Gallery Walk, Math Congress and Bansho. Toronto, ON: Queen’s Printer for Ontario.

Kementrian Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah.

 

TIMSS. (2012). TIMSS 2011 International Results in Mathematics. Chestnut Hill: TIMSS & PIRLS International Study Center.

Wichelt, Lexi dan Kearney, NE. 2009. Communication: A Vital Skill of Mathematics. Department of Mathematics University of Nebraska-Lincoln

 

Zainab (2010). Kemampuan Komunikasi dalam Pembelajaran Matematika.

http://blog.unsri.ac.id/zainab2011/kemampuan-pembelajaran/kemampuan-komunikasi-dalam-pembealajaran-matematika/mrdetail/101938/

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One comment on “Kemampuan Komunikasi Siswa dalam Matematika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s