Tafsir surah al Baqarah 26-27

Edisi, Sebelas
Jum’at, 20 Maret 2015

Tafsir Surah alBaqarah : 27

بسم الله الر حمن الر حيم
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي
الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (27)

“(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk disambungkan dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi” {27}

❗Sebelum masuk pada tafsiran ayat diatas, ada baiknya membaca kembali tafsiran ayat 26, karena ada keterkaitan antara ayat 26 dan 27.

📃Tafsir ayat :

Syu’bah meriwayatkan, dari Amru bin Murrah, dari Mus’ab bin Sa’d berkata, “Aku bertanya kepada ayahku mengenai firman Allah Swt – الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِه – hingga akhir ayat. Beliau Menjawab , “Mereka adalah Haruriyah (Khawarij)”.

Walaupun sanad dari Sa’d bin Abi Waqas shahih, tapi ini merupakan tafsiran terhadap makna ayat. Maka bukan maksud ayat menjadikan khawarij bagian dari nash Al Qur’an. Mereka (Khawarij) adalah orang-orang yang memberontak kepada Ali Ra saat peristiwa di Nahrawan.
Dan mereka belum ada saat ayat ini turun , tetapi mereka memiliki kesamaan sifat dengan yang dijelaskan Al Qur’an.
Mereka di sebut Khawarij karena keluar dari keta’atan kepada pemimpin dan syari’at islam.

📃”Fasik”secara bahasa bermakna keluar dari ketaatan. Kata “Fasik” sendiri mencakup seorang kafir dan pendosa, namun kefasikan orang kafir ternyata lebih berbahaya. Adapun maksud dari ayat ini adalah orang fasik yang kafir. Wallaahu’alaam.

📃Sifat orang kafir yang digambarkan ayat diatas, berbeda dengan sifat orang mukmin, sebagaimana dalam firman Allah pada surat Ar-rad : 19-25.

🔹Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam memaknai عَهْد (perjanjian) yang telah dilanggar oleh orang-orang fasik.

📃Sebagian berpendapat, “Ini adalah wasiat Allah Swt kepada makhluk-Nya agar menaati segala perintahNya dan menjahui segala laranganNya sebagaimana yang ada didalam kitabNya dan sebagaimana yang telah disampaikan melalui lisan Rasul-Nya. Mereka melanggar perjanjian itu dengan tidak mengamalkan hal tersebut”.

📃Sebagian lain berpendapat, “Ini berkenaan dengan orang kafir dan orang munafik dari kalangan Ahli kitab. Perjanjian yang mereka langgar adalah perjanjian yang Allah Swt ambil dari mereka didalam taurat, untuk beramal dengan apa yang dijelaskan didalamnya dan mengikuti Nabi Muhammad SAW jika telah diutus, serta membenarkan dan menyakini apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Namun mereka merusak perjanjian ini dengan menentang dan menyembunyikan pengetahuan tetang hal ini dari manusia. Padahal mereka telah berjanji untuk menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.
Ini pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, hal ini pula yang merupakan pendapat Maqatil bin Hayyan.

📃Sebagian lain berpendapat, “Ayat ini mencakup orang kafir, musyrik, dan munafik.
Penjanjian atas mereka dalam mentauhidkan Allah Swt, dengan adanya bukti-bukti Rububiyah.
Dan perjanjian dalam perintah dan larangan Allah Swt, dengan adanya bukti mukjizat Rasul Saw sebagai bukti kebenaran.

Mereka melanggaran perjanjian itu dikarenakan mereka tidak meyakini bukti-bukti kebenaran yang telah dijelaskan kepada mereka. Kemudian mendustakan Rasul Saw dan kitab-kitab walau mereka mengetahui kebenaran sesungguhnya.

📃Pendapat lain mengatakan bahwa perjanjian yang disebutkan merupakan perjanjian yang diambil atas mereka ketika mereka dikeluarkan dari tulang sulbi Adam. Allah berfirman (lihat al-‘araf :172-173) .
Kemudian maksud merusak perjanjian adalah, mereka tidak menepati janji tersebut.
Semua pendapat diatas dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir didalam tafsirnya.

🔹Abu ja’far bin Razi meriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dari Abi Aliyah telah berkata terkait ayat ini : “Ada 6 ciri orang munafik apabila mereka memperoleh kemenangan atas orang lain maka mereka akan menampakkan 6 ciri ini : 1) Apabila berkata dusta, 2) apabila berjanji mungkir, 3) apabila dipercaya khianat, 4) mereka melangkar perjanjian Allah setelah diteguhkan, 5) memutuskan apa yang Allah perintahkan agar dihubungkan, 6) membuat kerusakan di bumi. 

🔹Tetapi jika tertimpa kekalahan, maka mereka akan menampakkan 3 ciri ini: 1) Apabila berkata dusta, 2) apabila berjanji mungkir, 3) apabila dipercaya khianat.

📃As-saddi dalam tafsirnya  berkata terkait ayat ini, “perjanjian yang ditujukan kepada mereka tersebut ada didalam al-qur’an dan mereka mengakuinya. Lalu kemudian mereka menjadi kafir dan merusak perjanjian tersebut.”

Pada kalimat selanjutnya Allah berfirman :
( وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَل )
“memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya ”
Maksudnya, menjalin silaturahim dengan sanak kerabat.
Sebagaimana yang ditafsirkan Qotadah dan pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir.

📃Namun pendapat lain mengatakan, makna yang dimaksud lebih umum, yaitu setiap apa saja yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan dan dikerjakan. Namun mereka malah memutusnya.

📃Muqotil bin Hayyan berkata mengenai akhir dari ayat ini, 
(أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ)
“Mereka itulah orang-orang yang rugi”
Ini semakna dengan firman Allah,
( ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻌْﻨَﺔُ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﺳُﻮﺀُ ﺍﻟﺪَّﺍﺭ )
“Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi
mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)” {Ar-Ra’d: {25}

📃Diriwayatkan dari Dahaak dari Ibnu Abbas “setiap kata “merugi” yang Allah nisbahkan kepada selain muslim, maka maknanya adalah kekufuran. Sedangkan jika dinisbahkan dengan orang muslim maka maknanya adalah dosa.

📃Ibnu jarir berkata terkait firman Allah (أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ)
Khaasiruun bentuk jamak dari khasirun yaitu mereka yang mengurangi keberuntungan mereka dari rahmat Allah, karena perbuatan maksiat mereka kepada Allah.
Seumpama seorang pedagang yang rugi dalam perniagaannya. Maka orang munafik dan orang kafir akan memperoleh kerugian dengan diharamkannya rahmat Allah Swt atas mereka di hari kiamat, padahal saat itu mereka benar-benar membutuhkan rahmat Allah Swt.

Walaahu’alaam bishshowwab

📚Tafsir Al Qur’an Al azhim

Diterjemahkan Oleh:
Tim Tafsir Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ

RTO/11/20/03/2015/divisiTSIPSDMODOJ
[20/3 07:53] Odoj Achi Asri Nor Laila: RUBRIK TAFSIR ODOJERS
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Edisi Sepuluh
Jum’at, 13 Maret 2015

🌀Tafsir Surah al Baqarah ayat 26

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26)

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik” {26}

📃Tafsiran ayat 26📃

Berkata Saddi dalam tafsirnya, dari ibnu Mas’ud, dari sejumlah sahabat : ketika Allah menjadikan dua perumpamaan ini bagi orang munafik (lihat pada surat al-baqarah ayat 17-19), berkatalah orang munafik, “Allah-lah yang maha tinggi dan maha besar dengan perumpamaan ini.” Maka Allah menurunkan ayat ini hingga akhir ayat ( هُمُ الْخَاسِرُون) -maksudnya ayat 26 dan 27 al baqarah-

Dari Ma’mar, Dari Qotadah : ketika Allah menyebutkan laba-laba dan lalat sebagai perumpamaan, berkatalah orang-orang musyrik, “Apa hubungannya antara laba-laba dan lalat?” Maka Allah menurunkan ayat ( إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا)

Dari Said, dari Qotadah : sesungguhnya Allah tidak segan menyebutkan sesuatu demi kebenaran, baik itu kecil maupun besar. Dan ketika Allah menyebutkan lalat dan laba-laba dalam kitab-Nya, berkatalah orang sesat, “Apa maksud Allah menyebutkan hal ini!?” Maka Allah menurunkan ayat ( إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا)

Dari Rabi’ bin Anas : ini perumpamaan yang Allah jadikan untuk menggambarkan dunia. Karena nyamuk akan tetap hidup ketika lapar dan apa bila telah kenyang maka dia akan mati.
Begitu juga halnya bagi orang-orang yang Allah tujukan perumpamaan ini untuk mereka, apabila jiwa mereka telah dipenuhi kesenangan dunia, maka disitu Allah akan mencabut segalanya dan mengazab mereka. Allah berfirman  {“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”} QS. Al-An’am 44

Ada perbadaan mengenai asbabunnuzul, dan Ibnu Jarir lebih memilih apa yang telah diriwayatkan Saddi karena lebih menyentuh dengan isi surat.

📝Makna ayat📝

Maksud dari (إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي)
{“Sesungguhnya Allah tiada segan”} adalah tidak enggan dan takut membuat perumpamaan apapun itu, baik kecil maupun besar.

Sedangkan makna (فَمَا فَوْقَهَا)
{“atau yang lebih rendah dari itu”} ada dua pendapat disini.

🔹Pertama, sesuatu yang lebih rendah dan lebih tercela (dari nyamuk). Ini pendapat al-Kisai dan Abu Ubaid.
🔹Sedangkan pendapat yang kedua, menunjukkan sesuatu yang lebih besar (dari nyamuk). Qatadah dan Ibnu jarir lebih memilih pendapat ini, atas dasar tidak ada yg lebih hina dan rendah dari nyamuk.

(إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا)
{“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu”}
Mujahid berkata terkait firman Allah diatas, baik perumpamaan itu kecil maupun besar, orang mukmin akan mengimaninya dan menyakini bahwasanya itu adalah kebenaran dari Allah dan Allah akan memberi hidayah dengannya.

(فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ)
{“Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka”}
Menurut Qotadah, mereka adalah orang-orang yang mengetahui bahwasanya perumpamaan itu merupakan Kalamullah.

(وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا)
{“tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”}
Abu aliyah berkata : Allah berfirman dalam surat muddasir ayat 31.
“….supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya….”

Dari Ibnu Mas’ud dari banyak sahabat: maksud (يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا)
{“dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah”}
yakni orang munafik, maka Allah menambah kesesatan mereka disamping kesesatan mereka yang telah ada. Sebab kedustaan mereka dengan apa yang mereka ketahui dari perkara yang haq dari Allah.

Sedangkan maksud (وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا)
{“Dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk”}
yakni orang mukmin yang dengan perumpamaan itu dapat menambah hidayah dan keimanan mereka disamping keimanan yang telah ada di hati mereka.

Abu aliyah berkata :
Maksud ayat (وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ) {“Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”} adalah ahli nifaq.
Sedangkan menurut Mujahid dari Ibnu abbas adalah orang kafir yang mengetahui adanya Allah tetapi mereka kufur.
Menurut Qotadah mereka adalah orang fasik, maka Allah menyesetkan mereka karena kefasikan mereka.
Menurut mus’ab bin sad dari sad, yg dimaksud ayat adalah khawarij.

Allah tidak pernah mengganggap remeh susuatu hal untuk dijadikan perumpamaan, walaupun dari sesuatu yg hina dan rendah seperti nyamuk. Sebagaimana Allah tidak enggan menciptakannya maka Allah tidakkan enggan menjadikannya sebuah perumpamaan.

Dalam Al-qur’an terdapat banyak sekali ayat yang berisikan perumpamaan, diantaranya, [Al-hajj:73] [al-ankabut:41] [Ibrahim:24-27] [An-nahl:75-76] [Ar-rum:29] [Az-zumar:29] dan banyak lagi.

Kaum salaf berkata: “jika kami mendengar perumpamaan dalam Al-qur’an dan kami tidak dapat memahaminya maka kami akan menangis, Karena Allah telah berfirman “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” QS. Al-ankabut : 43

Disarikan dari:
📚 Tafsir al-qur’an al-azhim

Posted By:
📚Tim Tafsir divisi TSI-PSDM ODOJ

RTO/10/13/03/2015/divisiTSIPSDMODOJ
[23/3 07:06] Odoj Achi Asri Nor Laila:

Advertisements
By Tya Nurdina Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s